Rabu, 21 Oktober 2020

Kaidah induk (Al-Qa'idah Al-Umm) Membahas Isu Isu Muamalah Dan Kontomporer Dalam Kitab (Qowaid Al Ahkam Fii Mashalih Al-Anam Pada Kaidah Jalb Mashalih Wa dar'ul Maffasid) Syifa Fatihur Rizki HESD/5 (1808202127)

 Kitab Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al- mazhab al-Syafi’i. Ia disusun oleh al-Imam ‘Izzuddin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdul Salam al-Sulami al-Syafi’i (577-660H). Keluarga Imam ‘Izzuddin berasal dari Maghribi, namun beliau dilahirkan di Damsyiq Syria dan menetap dan meninggal dunia di Mesir. Murid beliau al-Imam Ibn Daqiq al-‘Eid menggelar beliau sebagai “Sultan al-Ulama”. Beliau terkenal sebagai seorang ahli fiqh dan ushul fiqh, gramatika arab, dan tafsir. Dalam kitab ini, beliau telah merangkumkan semua permasalahan fiqhiyyah hanya dalam satu kaedah asas, iaitu “ i’tibar al-mashalih wa dar’ al-mafasid”. Kitab ini memang sengaja ditulis oleh pengarangnya untuk menerangkan tujuan utama syariat yang menurut beliau hanya tertuang dalam satu asas, iaitu mencapai cita-cita kemaslahatan umat dengan prinsip asas “ tahshil al-mashalil ” dan “ dar’ al-mafasid ” atau yang biasa disebut dengan “ jalb mashalil wa dar’ al-mafasid (menarik kemaslahatan dan menolak kerusakan).

 Imam ‘Izzuddin Ibn Abdul Salam menerangkan tujuan kitab ini disusun, katanya;

menerangkan kepentingan-kepentingan yang diperolehi dari bentuk ketaatan yang dibuat, muamalat dan semua tindakan oleh seorang hamba Allah. Ia juga menerangkan bentuk larangan yang perlu dijauhi seorang hamba Allah, dan menerangkan kepentingan ibadat supaya seorang hamba Allah itu beribadat dalam keadaan paling baik. Kitab ini juga menjelaskan kepentingan yang perlu didahulukan ke atas kepentingan yang lain dan melewatkan kemudaratan mengatasi yang lain. Dan perkara yang termasuk di bawah usaha seorang manusia berbanding perkara yang tidak mampu dilakukan olehnya ”. 

Secara umumnya, keseluruhan kitab ini membincangkan kaidah syara' yang asasi yaitu 'menarik maslahah (kepentingan) dan menolak kemudaratan '.

 contoh aplikasi kaidah ”Jalb-u al mashālih wa dar-u al mafāsid” dalam kasus lingkungan hidup yang sudah tercemar. 

Solusinya berusaha untuk mewujudkan semua jenis kemaslahatan dan menghilangkan semua kerusakan.

kita berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan maslahah dan menghilangkan semua kerusakan. Sebab, syariah turun untuk memelihara kemaslahatan dan menghilangkan semua kerusakan. Maka, maslahah apa pun jenisnya, harus dipelihara. Dan kerusakan apapun wajib untuk dihilangkan. Akan tetapi, tuntutan memelihara dan menghilangkan maslahah dan kerusakan bersifat relatif—maksudnya, ia bisa jadi wajib, sunah, haram, makruh, sesuai dengan kadar mashlahah-mafsadah itu sendiri.

Contoh isu keuangan kontemporer

 Meminjam dibank bukan untuk usaha

Karena beresiko tinggi bahkan sampai kehilangan tempat tinggal.

Jalbul masholih utang dibank karena usaha. Dar'ul mafasid tidak berhutang dibank karena hanya memenuhi keinginan seperti membeli barang mewah.

Sekian wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lima Kaidah Dasar Fiqih

 Adila Sri Sifa 1808202159 Muhammad Hamzah mengatakan “masalah-masalah fiqh itu hanya dapat dipahami dengan mudah melalui kaidah-kaidah fiqh...